Nidji Rilis Single Abu-abu, Refleksi Kondisi Penuh Ketidakpastian Saat Ini

Dimatadunia.com adalah sebuah website yang membagikan sebuah fakta tentang yang ada di belahan dunia,yang selalu memberikan berita terupdate,sebuah jurnal akan membagikan sebuah cerita yang ada di dunia.sebuah jurnal tidak ada update tentang berita kebohongan dunia,tapi sebuah jurnal akan cerita tentang fakta yang ada di dunia.

Dimatadunia.comNidji yang beranggotakan Ariel Harsya (gitar), Ramadhista Akbar (gitar), Andro Regantoro (bas), Randy Danistha (kibor), Adri Prakarsa (drum) serta Yusuf Ubay (vokal), tetap produktif di masa pandemi Corona Covid-19 ini. Nidji melahirkan single “Abu-abu,” yang hadir di berbagai layanan musik digital.

Warna abu-abu yang terletak di antara hitam dan putih kerap melambangkan ketidakjelasan atau ketidakpastian. Lagu “Abu-abu” dari Nidji merefleksikan kondisi saat ini. Banyak pihak resah di masa pandemi. Salah satunya dipicu berita di media sosial yang membingungkan.

Lagu baru Nidji yang dirilis pada 24 Juli 2020 ini lahir dari perbincangan Randy dengan buah hatinya.

Tema Relevan

Nidji. (Foto: Instagram @nidjiofficial)

“Lagu ini ditulis di awal tahun 2020, saat saya bermain piano ditemani anak kedua saya (Sakha). Lalu saya meminta bantuan untuk tema lagu. Sekejap Sakha menjawab, ‘abu-abu,'” beri tahu Randy melalui keterangan resmi yang diterima Dimatadunia.com, baru-baru ini.

Dari jawaban anaknya itu, Randy menyadari tema abu-abu relevan dengan kondisi saat ini. “Setelah itu berbagai tema luas tentang abu-abu berdatangan di kepala yang ternyata relevan dengan kondisi sekarang,” imbuh Randy.

Menuju Klimaks

Aransemen lagu “Abu-abu” yang digarap Ariel (produser) dan Heston (co-produser), berhasil membawa pendengar mengikuti ritme yang tidak terburu-buru, namun konstan dari awal sampai akhir. Ia diwarnai intonasi musik dan nyanyian yang menuju klimaks oleh Ubay.

Makna Tambahan

Penyempurnaan lagu “Abu-abu” yang bertepatan dengan Ramadan 2020, membawa makna tambahan bahwa masa seperti ini bisa menjadi momen kontemplasi dari rutinitas kehidupan yang kita jalani sebelumnya.

Kontemplasi bersama lagu “Abu-abu” membuat kita makin sadar bahwa selama ini, makhluk yang paling menyeramkan untuk alam semesta ialah manusia. Fitnah, perang saudara, rasisme, menyebar konten yang tidak jelas, kerap dilakukan oleh mereka.

Cari Jawaban

“Segala pertanda akhir zaman semakin diperlihatkan,” katanya. “Abu-abu” menggambarkan banyak hal di dunia tidak dibatasi oleh hitam dan putih. Selain itu, “Abu-abu” potret kefrustrasian seseorang terhadap pudarnya garis tebal antara dua hal yang berbeda.

“Lagu ini saya buat di kanvas seperti lukisan realisme tahun 2020. Sebagai manusia, secara naluri, kita akan terus mencari jawaban atas sesuatu yang kita tidak akan pernah tahu,” tutup Randy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *